Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas jangkauan pemasaran produk mereka. Melihat potensi tersebut, Tim KKNT 88 Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan program digitalisasi pemasaran bagi para pengrajin tenun di Desa Tedunan, Kabupaten Jepara. Program ini menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan produk tenun Tedunan agar tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar, tetapi juga mampu menjangkau konsumen yang lebih luas melalui platform digital dan e-commerce.
Salah satu anggota Tim KKNT 88 UNDIP, Winayu Adinda, turut terlibat dalam pelaksanaan program yang berfokus pada pengembangan pemasaran digital produk tenun lokal. “Potensi tenun di Tedunan sebenarnya sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana produk tersebut bisa ditemukan dan dikenal oleh konsumen di luar wilayah Tedunan. Karena itu, digitalisasi pemasaran menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Winayu Adinda, anggota Tim KKNT 88 UNDIP.
Tenun merupakan salah satu produk kerajinan yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi. Namun, pemasaran yang masih bergantung pada penjualan secara langsung dapat menjadi salah satu hambatan dalam menjangkau konsumen baru. Melalui program “Tenun Tedunan Naik Kelas”, Tim KKNT 88 UNDIP mendorong pengrajin untuk mulai memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran. Kegiatan dilakukan dengan memperkenalkan konsep e-commerce, mulai dari pembuatan identitas produk, pengambilan foto produk yang menarik, penulisan deskripsi produk, hingga pengenalan cara mengunggah dan memasarkan produk melalui platform digital. Dengan adanya katalog digital dan kehadiran produk di e-commerce, calon konsumen dapat memperoleh informasi mengenai produk tenun tanpa harus datang langsung ke lokasi pengrajin.
Digitalisasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada bagaimana produk dapat dijual secara online. Tim KKNT 88 UNDIP juga mendorong pengrajin untuk membangun identitas dan daya tarik produk Tenun Tedunan. Hal tersebut dilakukan melalui penyusunan informasi mengenai produk, visualisasi motif, cerita di balik proses pembuatan tenun, serta pengenalan karakteristik produk kepada calon konsumen. Pendekatan ini diharapkan dapat membuat tenun Tedunan memiliki nilai tambah di mata konsumen. Produk tidak hanya dipandang sebagai kain, tetapi juga sebagai hasil kerajinan lokal yang memiliki cerita, keterampilan, dan nilai budaya di dalamnya.
Pemanfaatan e-commerce memberikan peluang bagi pengrajin untuk mengurangi keterbatasan pemasaran secara konvensional. Konsumen dari berbagai daerah dapat mengenal dan membeli produk tenun tanpa terbatas oleh jarak geografis. Selain memperluas pasar, digitalisasi juga diharapkan dapat membantu pengrajin memahami perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa mencari informasi dan melakukan transaksi melalui platform digital. Melalui program ini, Tim KKNT 88 UNDIP berharap para pengrajin dapat terus mengembangkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung keberlanjutan usaha. “Harapannya, digitalisasi ini tidak berhenti setelah program KKNT selesai. Pengrajin bisa melanjutkan pengelolaan platform digital secara mandiri sehingga Tenun Tedunan dapat terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas,” tambah Winayu.
Program “Tenun Tedunan Naik Kelas” menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong pengembangan potensi ekonomi lokal melalui pemanfaatan teknologi digital.Kolaborasi antara mahasiswa dan pengrajin diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem pemasaran digital bagi produk lokal Desa Tedunan.Dengan memanfaatkan e-commerce dan media digital secara konsisten, Tenun Tedunan diharapkan mampu naik kelas dari produk lokal menjadi produk yang dikenal oleh konsumen dari berbagai daerah, bahkan berpotensi menembus pasar nasional.Winayu Adinda bersama Tim KKNT 88 UNDIP berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan potensi lokal melalui inovasi digital yang sederhana, aplikatif, dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri.