Tedunan, Wedung, Demak – Mahasiswa KKN-T 88 Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan inovasi pemanfaatan air tua (bittern) sebagai “koagulan” dalam pembuatan tahu. Program ini menjadi upaya menggali potensi lokal sekaligus mendorong pemanfaatan hasil samping tambak garam secara lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
Pemanfaatan tambak di wilayah pesisir mengikuti kondisi musim. Saat musim kemarau, tambak dimanfaatkan untuk produksi garam melalui proses penguapan air laut. Sementara itu, ketika memasuki musim hujan, tambak dapat dimanfaatkan untuk budidaya bandeng dan udang. Dari proses produksi garam tersebut dihasilkan air tua atau bittern yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi dibuang.
Padahal, bittern mengandung berbagai mineral, terutama magnesium, yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai koagulan dalam proses pembuatan tahu. Melalui inovasi ini, hasil samping produksi garam dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna, sehingga tidak hanya berhenti sebagai limbah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai air tua (bittern) yang mencakup pengertian, proses terbentuknya, kandungan mineral, manfaat, serta potensi pemanfaatannya. Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan tahu menggunakan bittern sebagai koagulan, sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung proses pemanfaatan air tua menjadi produk olahan.
Dalam kegiatan ini, Nurul Nur Amana (Ilmu Kelautan) berkontribusi dalam memberikan edukasi mengenai potensi dan pemanfaatan bittern sebagai hasil samping produksi garam. Sementara itu, Surya Agustinus Sihotang (Akuntansi) berkontribusi dalam aspek ekonomi melalui perhitungan dan penetapan harga jual tahu berbahan bittern, dan Fusita Puspito Asri (Teknologi Pangan) berkontribusi dalam memberikan demonstrasi cara pembuatan tahu dengan menggunakan bittern sebagai koagulan. Kolaborasi ini menggabungkan aspek kelautan, teknologi pangan, dan ekonomi agar inovasi tidak hanya dapat diterapkan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan secara ekonomis.
Melalui sinergi lintas disiplin tersebut, pemanfaatan bittern diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan pemanfaatan hasil tambak yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang diversifikasi produk dan peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Penulis: Surya Agustinus Sihotang, Fusita Puspito Asri, dan Nurul Nur Amana
Editor: Tim KKN Tematik 88 Undip