TEDUNAN, DEMAK – Aktivitas pertambakan garam di wilayah pesisir memiliki risiko kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan yang cukup tinggi, mulai dari luka akibat peralatan tambak, dehidrasi di bawah terik matahari, hingga iritasi akibat paparan air tua (bittern). Menyadari pentingnya aspek keselamatan kerja (K3) bagi para petambak lokal, mahasiswa KKN Tematik Tim 88 Universitas Diponegoro menginisiasi program Penyuluhan Pertolongan Pertama dan Peningkatan Kesiapsiagaan Kecelakaan Kerja pada Petani Garam di Desa Tedunan, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Hasna’ Niyabah, mahasiswa program studi Oseanografi FPIK Undip bersama tim KKN. Program ini difokuskan pada edukasi tanggap darurat kecelakaan ringan, penanganan kelelahan fisik (heat exhaustion), serta pencegahan infeksi pada luka terbuka di area pertambakan garam.
Materi edukasi disampaikan secara interaktif dan aplikatif melalui demonstrasi langsung penanganan medis darurat, disertai pembagian leaflet panduan pertolongan pertama. Sebagai bentuk intervensi konkret dan berkelanjutan, tim KKN turut menyerahkan sarana kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) lengkap kepada kelompok petani garam setempat.
"Kondisi lingkungan tambak garam yang jauh dari pemukiman dan pusat pelayanan kesehatan menuntut para petani garam untuk memiliki pemahaman mandiri terkait tindakan pertolongan pertama," ungkap Hasna’. Melalui pelatihan ini, diharapkan kesadaran akan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) petambak Desa Tedunan semakin meningkat, sehingga produktivitas dan kesejahteraan petani garam tetap terjaga secara optimal