Tedunan, Wedung - Komitmen Desa Tedunan dalam mewujudkan tata kelola lingkungan yang mandiri dan berkelanjutan melangkah ke tahap yang lebih nyata. Apa yang semula hanya dipandang sebagai galon bekas, kini memiliki peran baru dalam menjaga lingkungan. Sebanyak 150 galon Le Minerale bekas disulap menjadi 75 unit ember tumpuk dan dibagikan kepada warga RT 03 RW 01, Desa Tedunan, Kecamatan Wedung. Program ini merupakan lanjutan dari Pilot Project Terintegrasi yang digagas dan dikembangkan oleh mahasiswa KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026, Astika Lianti Suparno (Astika) dari program studi Ilmu Tanah melalui edukasi pengelolaan limbah organik rumah tangga. Inovasi tersebut kemudian mendapat perhatian dan respons positif dari Pemerintah Desa Tedunan, sehingga pelaksanaan program berkembang menjadi kolaborasi antara mahasiswa KKN-PPM UGM dan Pemerintah Desa Tedunan dalam proses penyediaan bahan, pembuatan, hingga pendistribusian ember tumpuk kepada warga.
Ember tumpuk yang diperkenalkan merupakan inovasi yang dicetuskan oleh Bapak Nasih Widya Yuwono, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Sederhana dalam bentuk, tetapi memiliki fungsi yang penting dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga. Satu unit ember tumpuk terdiri atas dua galon bekas yang disusun secara bertingkat. Galon bagian atas digunakan sebagai tempat penampungan dan penguraian limbah organik padat, seperti sisa buah dan sayur, sedangkan galon bagian bawah berfungsi sebagai tempat penampungan air lindi yang dihasilkan selama proses penguraian. Dengan demikian, limbah organik yang sebelumnya berakhir sebagai buangan dapat diarahkan untuk menghasilkan bahan yang berpotensi dimanfaatkan kembali.
Menurut Nasih Widya Yuwono, prinsip kerja ember tumpuk memanfaatkan gaya gravitasi. Cairan yang terbentuk selama proses pembusukan sisa makanan, buah, dan bahan organik lainnya di galon bagian atas akan mengalir secara alami menuju galon bagian bawah. Pemisahan antara limbah padat dan cair tersebut membuat proses pengelolaan menjadi lebih praktis sekaligus memungkinkan hasil penguraian dimanfaatkan kembali. Galon bagian atas dapat menghasilkan bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai kompos, sementara cairan yang terkumpul di bagian bawah berupa air lindi dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai Pupuk Organik Cair (POC) sesuai dengan pengelolaan yang tepat.
Lebih dari sekadar pemanfaatan barang bekas, pembagian 75 ember tumpuk ini menjadi langkah nyata untuk mendorong pengelolaan limbah organik dimulai dari rumah. Kolaborasi antara mahasiswa KKN Astika Lianti Suparno dan Pemerintah Desa Tedunan menunjukkan bahwa inovasi sederhana dapat berkembang ketika mendapat dukungan dan keterlibatan masyarakat. Melalui pemanfaatan ember tumpuk, warga diharapkan semakin terbiasa memilah dan mengolah limbah organik secara mandiri, mengurangi limbah yang dibuang ke lingkungan, serta memanfaatkan kembali hasil penguraiannya untuk mendukung kebutuhan tanaman. Dari dua galon bekas, lahir satu langkah sederhana menuju kebiasaan baru yaitu mengubah limbah rumah tangga menjadi produk yang lebih bernilai bagi lingkungan Desa Tedunan.